Jangan Membenci Agar Damai Hati

“Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja; siapa tahu – pada suatu hari kelak – ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya saja; siapa tahu – pada suatu hari kelak – ia akan menjadi orang yang kaucintai.” ( Ali bin Abi Thalib)

Benci dan cinta memang timbulnya dari hati atau Qalbu. Secara bahasa Qalbu berasal dari kata Qallaba-yuqallibu. Artinya yang berbolak-balik. Wajar saja hati itu gampang berbolak-balik. Ada kalanya hati tertarik pada sesuatu. Adakalanya juga jadi membenci sesuatu.

Bila kebencian mulai menyusup, ada baiknya kita memeriksa relung hati kita. Adakah yang salah? Jangan-jangan kebencian itu datang bukan hanya semata-mata karena sosok yang kita benci layak dibenci. Melainkan karena hati kita saja yang sudah teracuni hasad dan dengki. Naudzubillah min dzalik.

Lagi pula, untuk apa menyimpan kebencian? Tak menambah manfaat, malah hanya menambah alasan hati sesak. Bila apa yang ia lakukan memang menggoreskan luka dalam hati kita, mengapa tidak memaafkan? Toh, kita juga bukan manusia yang sempurna. Kita masih punya banyak khilaf dan salah.

Tak pantas rasanya kita terburu-buru membenci seseorang. Kita bukanlah Sang Hakim yang layak untuk menghukum. Kita juga pernah bersalah, bukan? Bencilah ia sekadarnya. Maafkanlah kekhilafannya. Mungkin, memaafkan tak banyak memberikan perubahan. Tapi, bukankah kita berhak atas kedamaian hati? Jadi kenapa harus membenci?

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *