Miris! Guru di Desa Ini Dibayar Rp 1.000 per Harinya

guru di bengkulu

TIPSTREN.com — Guru merupakan salah satu orang yang berjasa bagi semua orang. Semua yang bersekolah sudah pasti di didik oleh guru. Profesi guru merupakan salah satu profesi yang mulia karena sudah berjasa dengan apa yang ia kerjakan.

Namun, bagaimana jadinya jika profesi guru tidak dihargai? Seperti salah satu kisah ini yang dirasakan oleh para guru di Desa Tik Teleu, Kecamatan Pelabai, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.

Berada di sudut desa yang jauh dari Ibu Kota itu terdapat satu Madrasah bernama Tsanawiyah (MTs) Zikir Pikir. Sekolah ini dirintis pemuda-pemuda setempat yang mengenyam pendidikan perguruan tinggi, mulai dari gelar strata satu hingga master.

Sekolah Madrasah ini dibangun pada tahun 2011 yang kini terlihat memprihatinkan. Separuh gedungnya terbuat dari papan dan semen, sedangkan plafonnya rusak di beberapa bagian.

Sebenarnya, gedung madrasah ini merupakan pinjaman dari pemerintahan desa. Terdapat 38 siswa dan delapan guru sebagai tenaga pengajar.

Selain kondisi bangunan yang memprihatinkan, ada kisah miris yang dialami para guru di madrasah ini. Salah satu guru tersebut bernama Dwifa, yang merupakan guru perempuan dan pendiri sekolah, menyebutkan, sekolah itu dibangun atas dasar rasa khawatir akan tingginya angka putus sekolah di daerah itu.

Pada dua tahun berdirinya sekolah, pada 2011 dan 2012 terdapat 14 tenaga pengajar. Selama dua tahun, 14 guru tidak digaji sama sekali.

Masuk ke tahun 2013 hingga 2015, barulah para guru mendapatkan gaji dari Kementerian Agama. Dananya diambil dari Bantuan Operasional Siswa (BOS).

“Tahun 2013 hingga 2015 gaji diterima per bulan sekitar Rp 30.000 dibayar per tiga bulan. Tiga bulan terima Rp 90.000. Gaji sebesar itu berlanjut hingga 2016, barulah naik menjadi Rp 100.000 per bulan,” ujarnya.

Sang guru bernama Dwifa mengatakan, selain menjadi guru di sekolah itu, ia bersama suami memiliki pekerjaan lain, yaitu sebagai petani.

Hal yang sama juga dijelaskan Sukamdani, Kepala Sekolah MTs Zikir Pikir. Sukamdani memiliki gelar master pada bidang agama Islam. Tawaran menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi pernah ia terima, tetapi ia lebih memilih kembali ke kampung halaman.

Sukamdani menyebutkan, saat ini sekolah itu memiliki tanah sekitar 1 hektar sebagai wakaf dari masyarakat. Namun, pihaknya belum dapat memanfaatkan tanah wakaf itu karena terkendala biaya pembangunan gedung.

(hal/tipstren)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *