Jangan Memviralkan Foto Korban Bom, Hal Tersebut Membuat para Teroris Bangga

teror bom surabaya

TIPSTREN.com — Pagi tadi publik dikagetkan dengan terjadinya serangan bom di gereja daerah Surabaya. Namun, beberapa saat setelah kejadian peristiwa ledakan di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5/2018), beredar berbagai foto-foto dari lokasi kejadian.

Mungkin hanya sekadar foto-foto dampak ledakan seperti kaca-kaca yang pecah, sampai dengan yang paling menakutkan bagi sebagian besar orang, adalah foto-foto korban dari ledakan tersebut.

Banyak orang yang seolah-olah ingin menjadi yang ter-update dalam menginfokan kabar duka tersebut, baik melalui media sosial ataupun aplikasi pesan singkat lainnya.

Ternyata, apa yang mereka lakukan tersebut justru merupakan hal yang sangat diharapkan oleh para pelaku teror.

Para pelaku teror sejatinya memang ingin menyebarkan ketakutan di masyarakat. Pada saat warga masyarakat ‘berlomba-lomba’ mengunggah foto-foto dari peristiwa ledakan tersebut, ketakutan tersebut pun akan muncul dan menyebar.

Maka tidak heran jika himbauan untuk berhenti menyebarkan foto korban bom disampaikan sejumlah pihak.

Kengerian yang timbul dari penyebaran gambar atau konten itu dianggap sebagai teror baru di masyarakat.

“Menyebarkan justru membuat teroris bangga, maka jangan (menyebarkan),” ujar Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika, Noor Iza melansir dari laman KompasTekno.

Psikiater yang berasal dari RS Omni Tangerang, dr.Andri Sp.KJ, menyebutkan, menyebarkan foto-foto korban, apalagi tanpa disensor bisa memengaruhi psikologi.

“Bukan saja untuk keluarga yang mengalami peristiwa tersebut, tapi juga menyebarkan teror ketakutan pada orang lain. Upaya membagikan informasi tadi malah membuat rasa takut lebih besar. Inilah yang diinginkan teroris,” kata Andri dalam pesan singkat kepada KompasLifestyle.

Selanjutnya, viralnya beberapa foto di media sosial yang mengerikan bisa dengan mudah menambah kecemasan pada orang yang memiliki trauma atau punya gangguan kecemasan.

Psikolog Ratih Andjani Ibrahim, M.Psi menyebutkan, pada orang yang hati nuraninya masih tebal, tentu akan risih melihat gambar atau video potongan tubuh korban.

“Gambar-gambar tersebut mengoyak kemanusiaan kita. Seharusnya kita juga memberi hukuman sosial bagi yang menyebarkan. Misalnya kalau sudah berulang kali melakukan hal yang sama sebaiknya di-block atau dikeluarkan dari grup percakapan,” kata Ratih.

(hal/tipstren)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *