Bagaimana Metode Cuci Otak Bisa Membuat Seseorang Menjadi Radikal?

cuci otak

TIPSTREN.com — Publik khususnya di Indonesia saat ini kembali berduka karena adanya serangan teroris bertubi-tubi di Surabaya.Hal ini lantas membuat masyarakat Indonesia ketakutan dengan tragedi tragis pengeboman.

Banyak pelaku teroris menggunakan teknik bom bunuh diri untuk menyerang rumah ibadah dan kantor polisi. Para pelaku juga membawa anak kecil untuk melakukan aksi bejatnya.

Hal ini membuat kita semua bisa menyimpulkan bahwa para pelaku telah dicuci otak oleh suatu kelompok teroris. Lantas seperti apakah metode cuci otak?

Cuci otak itu membuat mereka rela membunuh diri mereka sendiri sekaligus membawa anak serta orang-orang tak bersalah menjadi korban, demi suatu janji palsu.

Pada ilmu psikologi, cuci otak atau thought reform, termasuk dalam bagian psikologi pengaruh sosial atau social influence. Pengaruh sosial sendiri terjadi setiap waktu selama kita hidup.

Metode Cuci Otak

Biasanya hal untuk mempengaruhi adalah adanya masalah sosial. Cara seperti ini membuat seseorang bisa mengubah sikap, kepercayaan, dan kebiasaan dari orang lainnya. Dijelaskan ada beberapa metode yang digunakan untuk membuat seseorang mengalami cuci otak tersebut.

Beberapa di antaranya adalah metode Compliance, yang memiliki tujuan untuk membuat perubahan pada tingkah laku seseorang tanpa mempedulikan sikap asli ataupun kepercayaannya.

Lalu ada juga metode Persuasion, yang di mana memiliki target untuk membuat perubahan sikap dengan contoh kata-kata “Lakukan saja, karena hal itu akan membuatmu merasa baik/senang/sehat/sukses.”

Metode Education atau yang juga sering disebut sebagai metode propaganda ini menargetkan untuk membuat perubahan pada kepercayaan seseorang dengan contoh kata-kata “Lakukan karena kamu tahu itulah hal yang benar untuk dilakukan.”

Cuci otak sndiri merupakan salah satu bentuk dari pengaruh sosial yang menggabungkan semua metode tersebut untuk menyebabkan perubahan pada jalan pikiran seseorang, tanpa persetujuan orang tersebut.

Proses Cuci Otak

Karena cuci otak adalah suatu cara mempengaruhi yang sangat invasif, hal tersebut membutuhkan suatu kondisi yang di mana subjek diisolasi secara ketat dan dibuat sangat bergantung pada agen cuci otak.

Agen cuci otak juga harus memiliki kontrol penuh atas target. Hal-hal seperti pola tidur, makan, penggunaan toilet, dan kebutuhan dasar manusia lain dari si subjek cuci otak dibuat sangat tergantung pada agen cuci otak.

Dalam prosesnya, agen cuci otak secara sistematis menghancurkan identitas subjek hingga pada titik identitas itu hilang. Agen kemudian menggantikannya dengan identitas baru yang memiliki sikap, tingkah lalu, kepercayaan yang sesuai dengan lingkungan yang si subjek cuci otak miliki.

Pertentangan soal Cuci Otak

Sebagian besar psikolog mempercayai bahwa cuci otak sangat mungkin dilakukan dalam suatu kondisi yang tepat. Namun beberapa melihat cuci otak mustahil atau efeknya tidak separah yang banyak digambarkan media.

Beberapa definisi dari cuci otak dalam psikologi memerlukan adanya ancaman terhadap fisik, dan banyak kelompok yang dianggap tidak melakukan cuci otak tersebut karena tidak menggunakan kekerasan ini.

Selain itu, ada definisi lain yang mengatakan bahwa diperlukan “paksaan dan kontrol non fisik” sebagai cara untuk memperkuat pengaruh pada subjek.

Namun demikian banyak ahli yang mempercayai bahwa meski memiliki kondisi ideal untuk melakukan cuci otak, efeknya hanya sebentar saja.

Identitas asli subjek tidak benar-benar terhapus oleh proses cuci otak tersebut, mereka bersembunyi dan akan kembali muncul jika identitas baru mereka berhenti diperkuat dengan metode-metode tersebut.

(hal/tipstren)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *