Waspada Bakteri Jahat Bersarang Pada Kumis Dan Jenggot

Rambut pada wajah menjadi tren pada penampilan pria dalam beberapa tahun terakhir. Memiliki kumis dan jenggot yang terawat dianggap membuat penampilan pria semakin macho. Tak heran banyak remaja ataupun pria dewasa yang berusaha untuk menumbuhkan atau melebatkan kumis dan jenggotnya dengan berbagai produk atau berbagai cara.

Di sisi lain, bagi sebagian orang yang anti terhadap kumis dan jenggot, rambut pada wajah ini dianggap tidak bersih dan dapat membawa berbagai kuman penyakit. Apakah benar demikian?

Wajah Memiliki Berbagai Jenis Bakteri
Tanpa kita sadari, sebenarnya pada kulit manusia terdapat berbagai jenis bakteri. Sebagian jenis bakteri tidak menimbulkan penyakit atau disebut dengan flora normal, sementara sebagian jenis bakteri lainnya dapat menimbulkan penyakit.

Keseimbangan flora normal pada kulit sangat penting agar pertumbuhan bakteri jahat dapat dicegah. Namun, dalam keadaan tertentu apabila pertumbuhan flora normal melebihi dari yang seharusnya, jenis bakteri baik ini juga dapat berubah menjadi jahat.

Wajah merupakan salah satu tempat terjadinya pertumbuhan bakteri. Maka tak heran jika selama ini pekerja yang bergerak di bidang medis, industri makanan, dan pekerjaan lainnya yang memiliki kontak dekat dengan manusia sangat diharapkan untuk menjaga kesehatan dan kebersihan wajahnya.

Kumis dan jenggot dianggap dapat mendukung pertumbuhan bakteri pada wajah, sehingga dapat menyebabkan atau menularkan infeksi bakteri kepada orang lain yang berkontak langsung dengannya. Meski demikian, belum banyak penelitian yang membuktikan hal tersebut.

Penelitian Soal Bakteri pada Wajah
Sebuah penelitian yang dilakukan di salah satu rumah sakit di Amerika Serikat yang melibatkan 408 pekerja rumah sakit ternyata menemukan hasil berbeda. Penelitian tersebut memeriksa pertumbuhan kuman dari pekerja rumah sakit yang memiliki rambut wajah (kumis, jenggot, atau berewok) dengan pekerja rumah sakit yang mencukur rambut wajahnya.

Hasilnya, secara umum pertumbuhan bakteri sama banyaknya pada pria yang memiliki rambut wajah maupun yang mencukur. Namun, bakteri yang dapat menimbulkan infeksi saluran napas dan kulit (S. Aureus dan MRSA) ternyata lebih banyak tumbuh pada wajah pekerja rumah sakit yang mencukur rambut wajahnya. Hal ini diduga timbul akibat luka kecil yang kerap terjadi setelah mencukur, sehingga dapat memicu pertumbuhan bakteri.

Di sisi lain, ada sebuah penelitian di Turki yang memeriksa pertumbuhan kuman dari hidung pria yang berkumis dan tidak berkumis. Penelitian ini dilakukan pada masyarakat umum. Sebanyak 118 pria yang berkumis dibandingkan dengan 123 pria yang tidak berkumis. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan bakteri S. Aureus sama banyaknya pada kedua kelompok tersebut. Hasil ini tampak berbeda dengan penelitian yang disebutkan sebelumnya di atas. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan lokasi dan peserta penelitian. Penelitian sebelumnya dilakukan pada pekerja rumah sakit, sementara penelitian ini dilakukan pada masyarakat umum.

Karena masih minimnya penelitian tentang hal ini, maka belum bisa dipastikan apakah pria dengan rambut pada wajah ataukah pria yang bercukur yang memiliki jumlah bakteri lebih banyak pada wajahnya. Oleh karena itu, penelitian lain masih diperlukan untuk membuktikannya.

Namun demikian, jika Anda memutuskan untuk memiliki rambut wajah, maka pastikan Anda merawat kebersihannya dengan baik untuk mencegah pertumbuhan kuman. Sebaliknya, jika Anda memutuskan untuk mencukur rambut wajah Anda, pastikan Anda meminimalkan luka saat mencukur dengan cara membasahi rambut wajah sebelum bercukur, menggunakan foam, menggunakan alat pencukur yang tajam, serta mencukur dengan hati-hati.

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *